Menjalin Ukhuwah Dalam Ikatan Keluarga ( MUDIK )

MUDIK satu kata yang sangat akrab di telinga pada saat lebaran seperti sekarang ini. Semua orang mengetahui bahwa mudik merupakan suatu kegiatan pulang ke kampung halaman untuk bertemu dan berkumpul bersama keluarga. Biasanya, seminggu menjelang lebaran menjadi jadwal terpadat bagi kegiatan menjalin silaturrahmi di hari kemenangan ini.

Hari ini, dari grup WA, FB kudapatkan informasi baru perihal mudik. Kulihat pesan itu diteruskan atau di syare, artinya bukan karya asli sang pengirim pesan. Tetapi, bukan itu yang menjadi permasalahannya. Isi pesan itu yang justru membuatku merasa jangan-jangan karena aku yang memang kurang update hingga informasi ini tak sampai kepadaku.

Aku mengangguk takjub ketika membaca pesan yang bertuliskan: Pada usia berapa anda mengetahui bahwa MUDIK adalah singkatan dari Menjalin Ukhuwah Dalam Ikatan Keluarga? Kreativitas luar biasa, begitu fikirku.

Pesan itu, memaksaku mencari informasi lebih jauh lagi tentang kata mudik. Dari mulai Wikipedia hingga KBBI, semuanya menjelaskan bahwa mudik merupakan kegiatan pulang ke kampung halaman. Tak kutemukan seperti apa yang dituliskan oleh pesan tersebut. Pesan itu benar-benar informasi baru buatku. Alhamdulillah.

Siapapun pembuat akronim tersebut, pastilah bukan orang biasa. Daya kreativitas yang tinggi membuatnya mampu membuat kepanjangan dari kata MUDIK. Temuannya membuat pembaca menjadi miliki wawasan yang luas akan makna mudik yang sesungguhnya. Akhirnya, pesan itu pun menginspirasiku untuk membuat tulisan ini.

Menjalin Ukhuwah Dalam Ikatan Keluarga (MUDIK) setelah sebulan penuh berperang melawan hawa nafsu, kiranya dapat menjadi ladang pahala penyempurna ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Keluarga merupakan komponen masyarakat yang menjadi bagian penyumbang terbesar dalam mewujudkan kekokohan umat Islam. Ukhuwah Islamiyah kiranya menjadi modal utama pula dalam membangun persatuan dan kesatuan bangsa.

Fenomena mudik ini, menjadi satu dari sekian banyaknya cara merajut dan menguatkan tali ukhuwah di dalam keluarga. Aktivitas yang dibungkus dengan silaturrahmi ini, tumbuhkan rasa kasih sayang yang besar di dalam keluarga.

Betapa Allah dan Rasul-Nya telah mengingatkan akan pentingnya memperkuat hubungan silaturrahmi dan memberikan ancaman bagi orang-orang yang memutuskannya.

Di dalam surat Muhammad ayat 22 dan 23, Allah berfirman:

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ

Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? (QS.Muhammad: 22)

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَىٰ أَبْصَارَهُمْ

Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. (QS.Muhammad: 23)

Sesungguhnya silaturrahmi berbanding lurus dengan keimanan seseorang. Orang yang beriman akan selalu menjaga ukhuwah di dalam keluarga. Kekuatan seseorang untuk memelihara hubungan silaturrahmi di dalam keluarga, kiranya menjadi indikator kualitas keimanannya pula.

Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah menyambung keluarga (silaturahmi).” (HR. Bukhari)

Dengan demikian, menjadi tabiat seorang yang beriman untuk selalu menjaga keutuhan ukhuwah di dalam keluarga. Jika ada sesuatu hal yang menyebabkan tali ukhuwah itu terputus, maka ia akan bersegera melakukan ishlah dan menyambungkannya.

Sungguh, Rasulullah memberikan peringatan yang keras bagi pemutus hubungan keluarga. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam :

Sesungguhnya rahmat itu tidak diturunkan kepada kaum yang di dalamnya ada seorang pemutus hubungan keluarga.” (HR.Bukhari)

Akronim ini, menjadi penuntun bagi kita untuk melakukan aktivitas mudik dengan benar. Artinya menyadari sepenuhnya bahwa mudik berfungsi untuk mempererat jalinan silaturrahmi di dalam ikatan keluarga.

Dengan demikian pula mudik tidak akan dijadikan kesempatan untuk unjuk keberhasilan dan pamer kehebatan di kampung halaman yang berselimutkan riya tipis-tipis tanpa kita sadari.

Apalagi ketika berada di kampung halaman merasa hebat sendiri hingga dapat menyakiti yang lain. Sungguh, dimanapun kita berada, setan selalu berusaha untuk menggelincirkan kita ke dalam jurang kesesatan. Membisikkan keragua-raguan di dalam hati kita.

Dengan mengetahui akronim mudik ini, semoga hati selalu diingatkan bahwa kegiatan yang kerap dilakukan pada saat lebaran ini, menjadi moment ukhuwah paling indah bertabur mutiara pahala bagi pelakunya.

Wallahu a’lam bishowab.

#edisiidulfitri2022#

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tarian Manca Budaya Suku Bajo

KM Ladang Pertiwi Tenggelam di Selat Makassar, 26 Orang Masih Dicari

Rampa, Pemukiman Suku Bajau Di Tenggara Kalimantan