Sekilas Sejarah Banggai Laut Sulawesi Tengah Yang Di Diami Suku Bajau.
PUTRAPUTRIBJ - Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang berada di wilayah Pulau Sulawesi. Provinsi ini memiliki ribuan pulau yang menguntai dari Kabupaten Morowali di selatan.
sampai Kabupaten Buol di bagian Utara. Luas wilayah darat meliputi 61.841,29 km2 dan luas perairan laut sekitar 189.480 km2 dengan jumlah 1.134 pulau.
Banggai adalah nama pulau sekaligus nama wilayah administrasi serta nama kerajaan. Dinamika pemerintahan di Banggai amat dinamis, bahkan cukup dramatis. Bermula dari satu kabupaten bernama Kabupaten Banggai, berlanjut dengan lahirnya Kabupaten Banggai Kepulauan, dan terakhir adalah Kabupaten Banggai Laut.
Laut Banggai adalah habitat ikan Banggai Cardinal (pterapogon kauderni) atau yang dikenal dengan Banggai Cardinal Fish (BCF) yang merupakan ikan laut endemik di Kepulauan Banggai yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia.
Kekayaan budaya Provinsi Sulawesi Tengah tak bisa dilepaskan dari keberadaan Kerajaan Banggai. Kejayaan Banggai tidak terlepas dari si burung Maleo Senkarow atau Maleo, sejenis burung dengan panjang sekitar setengah meter. Tetapi kini Maleo yang merupakan burung endemik di Sulawesi terancam punah karena habitat yang semakin sempit dan telur-telurnya yang diambil oleh manusia.
Dilansir oleh laman berita Antara, burung maleo hidup di sejumlah titik yang tersebar dalam hutan rimba kawasan kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Beberapa kawasan tersebut seperti Desa Tuva dan Saluki, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi.
Habitat maleo pun terdapat di Desa Kadidia dan Kamarora, Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi. Di Desa Saluki bahkan terdapat penangkaran alamiah burung maleo milik Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL).
Meski berstatus hewan endemik, pemerintah mengizinkan telur maleo digunakan untuk upacara Malabot Tumpe. Ade 20-25 butir telur dalam prosesi tersebut. Alhasil ada kurang lebih 100 butir telur maleo yang di bawa dari Batui menuju Kabupaten Banggai Laut.
Ini didasarkan pada kepercayaan bahwa telur burung maleo hasil panen awal musim bertelur belum boleh dimakan sebelum dipersembahkan ke Raja Banggai yang tinggal di Pulau Banggai. Nah, kenapa harus diantar menyeberang laut? Sekali lagi, semua berasal dari legenda asal-usul tradisi tersebut.
Sumber IG : Prabu Siliwangi
Komentar
Posting Komentar