Kehadiran Telkomsel untuk Harapan Baru Suku Bajo di Labengki Kecil
Pulau Labengki Kecil masih cukup asing bagi sebagian warga Sulawesi Tenggara, terlebih masyarakat luas Indonesia.
Daratan kecil yang merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Lasolo, Kabupaten Konawe Utara ini menyimpan surga dan panorama indah yang cukup memanjakan mata.
Mulai dari kekayaan biota lautnya, air laut, pasir putih, hingga keramahan masyarakat Suku Bajo yang telah turun temurun puluhan tahun mendiami daratan tersebut sangat mudah dijumpai.
Namun, selama itu pula masyarakat tinggal dengan keterbatasan akses dari luar yang mengakibatkan adanya ketertinggalan informasi dibandingkan masyarakat daratan lainnya. Pasalnya, wilayah itu sangat lama tak tersentuh fasilitas umum seperti jaringan telekomunikasi.
Akibatnya, warga yang didominasi sebagai nelayan ini kesulitan memenuhi kebutuhan hidup seperti menjual hasil tangkapan, mengelola kawasan menjadi obyek wisata hingga berkabar dengan sanak saudara yang tinggal di pulau-pulau seberang.
Hingga akhirnya di tahun 2017, jaringan telekomunikasi Telkomsel hadir untuk harapan baru bagi 144 kepala keluarga (KK) yang ada di pulau itu. Berdiri kokoh diujung kampung, Base Transceiver Station (BTS) dengan terkoneksi jaringan broadband berteknologi terdepan 4G LTE, menjadi andalan baru Suku Bajo dalam mengakses informasi dunia luar.
Seperti yang dialami oleh Muhammad Fadhel, salah seorang warga di Pulau Lebengki Kecil. Dirinya bersama masyarakat sekitar sudah sejak lama tak menikmati jaringan provider Indonesia hingga kehadiran Telkomsel di kampung mereka beberapa tahun silam.
"Dulu itu, mau bikin apa serba susah. Jangankan internet, menelfon saja susah sekali, bagaimana mau jual hasil laut kalau jaringan saja susah," kata Fadhel saat berbincang santai bersama kendarinesia, Rabu (19/08).
Sebelum hadirnya Telkomsel, selama ini warga Suku Bajo menikmati fasilitas jaringan provider dari pulau seberang harus rela mendaki di atas bukit batu. Bahkan dengan kebiasaan bertelanjang kaki, bukit yang dipenuhi dengan karst tetap didaki.
"Kalau mau cari sinyal telfon, warga pergi diatas gunung. Itupun belum tentu dapat sinyal bagus, tapi tetap dilakukan," bebernya.
Pria yang akrab disapa Polo ini mengungkapkan sinyal telekomunikasi ternyata membawa dampak positif terhadap pendapatan para nelayan. Dimana, hasil tangkapan dari pulau seberang bisa segera diketahui.
"Yang bikin sulit itu kalau mau pastikan hasil tangkapan ikan di Pulo (pulau seberang). Itu harus cek langsung kesana, dan itu belum tentu sudah siap ikannya. Enak kalau sudah siap, kalau tidak? Mana solar habis, es batu cair, hasilnya tidak ada," paparnya.
Komentar
Posting Komentar